Argopuro: Done!

59

Gunung Argopuro merupakan bagian dari Pegunungan Iyang yang terletak di propinsi Jawa Timur, tepatnya di antara kabupaten Probolinggo, kab. Bondowoso, kab. Situbondo dan kab. Jember. Puncak tertingginya 3088 mdpl dengan kawah yang kini sudah tak aktif lagi walaupun masih menunjukkan sedikit gejala vulkanis berupa bau belerang yang tidak terlalu menyengat serta beberapa puncak dengan ketinggian yang lebih rendah di sekitarnya.

Pendakian gunung Argopuro dapat ditempuh lewat jalur Bermi kecamatan Krucil kab. Probolinggo serta dari jalur Baderan kec. Sumber Malang kab. Situbondo. Jarak tempuh untuk menuju puncak mencapai 20 km sehingga butuh waktu setidaknya 4-5 hari sejak berangkat sampai kembali ke pos pendakian, belum termasuk perjalanan untuk menuju pos pendakian, membuatnya relatif sepi dari kegiatan pendakian. Sebenarnya ada satu jalur pendakian lagi yaitu lewat Tancak kec. Pati kab. Jember, tapi jalur ini jauh lebih panjang lagi dibandingkan dua jalur lainnya membuat jalur ini biasanya hanya dilewati oleh patroli polisi hutan bersepeda motor.

Pada bulan Juni 2013, kami dari KMPA PLANTAGAMA Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yaitu Nino “kiting” dan Amri “kenthong” serta seorang alumni Fakultas Pertanian UGM Wawan “gendut” melakukan pendakian ke gunung Argopuro. Sebelum mendaki, sebaiknya kita membuat Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam yang ada di kota Probolinggo ataupun di kota Jember tetapi pendaki juga bisa mendapatkannya di pos pendakian. Berikut ini adalah sedikit cerita dari perjalanan panjang melintasi gunung Argopuro dari sisi timur di kab. Situbondo sampai ke barat di kab. Probolinggo.

Hari 0 Jum’at 14 Juni 2013 (menuju basecamp Baderan)
Basecamp Baderan dapat dicapai dengan naik ojek dari alun-alun Besuki yang terletak di pinggir jalan raya Probolinggo – Situbondo dengan tarif Rp30.000,- atau dengan angkutan pedesaan jurusan Sumber Malang dengan tarif setengahnya tapi beroperasi hanya sampai jam 2 siang. Karena kami tiba di Besuki pukul 16.00 jadi cuma ada ojek sebagai pilihan transportasi. Di tengah perjalanan kami harus melaporkan diri di pos Polsek Sumber Malang untuk pencatatan identitas plus sedikit pungli seikhlasnya (tahu sama tahu lah….). Di basecamp kami bertemu dengan penjaga bernama Bapak Samhaji untuk membuat SIMAKSI (karena pada pagi harinya saat datang ke kantor BKSDA di kota Probolinggo kami hanya bertemu dengan penjaga kantor padahal saat itu masih jam kerja). Setelah urusan administrasi selesai kami ditawari untuk bermalam di kantor tapi kami memilih bermalam di wisma pendaki saja yang tepat berada di depan pos, dengan dibekali sebuah rice cooker oleh Pak Samhaji, haha…. Malamnya kami ngobrol sampai jam 10 malam bersama Pak Samhaji tentang rute pendakian dan jalur yang harus dilalui.

1

2

Hari 1 Sabtu 15 Juni 2013 (basecamp Baderan – pos mata air 1)
Jalur pendakian yang sebenarnya berada 100 m menuruni jalan raya dari basecamp ditandai gapura jalur pendakian Argopuro. Dengan tarif Rp150.000,- per orang kami ditawari ojek motor sampai pos Cikasur, estimasi waktu tempuh berjalan kaki sekira 9 jam bisa dipangkas hingga 1/3-nya saja! Dengan memilih berjalan kaki, diiringi gerimis pukul 07.45 kami berangkat potong kompas lewat pemukiman penduduk yang ternyata hanya butuh 15 menit untuk sampai di jalan agak lebar berbatu yang merupakan jalur pendakian yang biasa dilalui. Tidak lama kemudian, di persimpangan kami bertanya jalur pendakian kepada warga yang ternyata juga bertujuan untuk mencari rumput di Cikasur, maka kami ikuti saja jalur yang mereka lalui yang katanya lebih pendek daripada jalur pendakian yang memutari bukit. Menurut informasi dari warga tersebut pula, pertemuan dengan jalur pendakian hanya 1 jam sedangkan lewat jalur biasa bisa mencapai 2 jam.

Sesuai kaidah geometri bidang miring, jarak yang lebih pendek berkonsekuensi sudut tanjakan lebih besar, artinya trek lebih berat! Kami melupakan sebuah fakta penting bahwa warga ini sudah sering naik-turun gunung dengan bekal hanya sebotol air minum sementara kami menggotong beban setidaknya 20 kg. Jalan setapak cuma selebar 30 cm dengan rumput tinggi di kanan-kiri ditambah jalan becek setelah hujan, landasan tanah yang lembek membuat alas kaki berkali-kali tersangkut sementara lapisan tanah yang keras menjadi sangat licin sehingga berkali-kali juga terpeleset, tidak butuh waktu lama bagi kami untuk tertinggal jauh dari warga, juga buat stamina saya untuk drop! Setiap 1 jam perjalanan harus diselingi dengan 30 menit istirahat, membuat kami kehabisan banyak waktu sehingga target untuk bermalam di pos Cikasur diganti dengan pos “dimanapunbisamendirikantenda”. Kami sepakat untuk tidak sedikitpun melakukan perjalanan malam karena sama-sama baru pernah mendaki Argopuro dan ditetapkan untuk berhenti berkemah maksimal pukul 16.00 agar lebih leluasa dalam mendirikan tenda.

Pukul 13.30 kami istirahat makan siang selama 30 menit di jalur yang agak datar sambil meratapi nasib tentang jalur yang baru saja kami lalui sambil membayangkan bahwa perjalanan masih sangat amat baru dimulai, tapi perut kenyang membuat otak kembali waras serta ucapan lebih manusiawi. 30 menit berjalan ternyata kami sudah sampai di pos mata air 1. Dengan pertimbangan waktu yang nanggung, jadilah kami nge-camp aja.

Di pos mata air 1 ada tanah lapang cukup untuk 5 – 7 tenda tapi kondisinya terbuka tanpa wind breaker serta posisinya di tepi jurang berpohon rindang tempat lutung bersarang. Kami mendirikan tenda tepat di tengah jalur, berharap tidak ada motor lewat atau setidaknya pendaki lain yang mungkin terganggu dengan keberadaan tenda kami. Dan sesuai namanya, terdapat aliran sungai kecil yang katanya selalu mengalir walaupun sedang musim kemarau, hanya berjarak 20 m menuruni persimpangan ke arah kiri kalau dari bawah, air segar melimpah siap membasahi tubuh yang lelah setelah seharian melangkah.

3Jalur basecamp Baderan – pos mata air 1

4Ketemu lutung

5Jalur di belakang: arah ke puncak

Hari 2 Minggu 16 Juni 2013 (pos mata air 1 – Cikasur)
Pukul 7 pagi, kami yang masih ngantuk-ngantuk-males sedang masak sarapan ketika sayup-sayup mendengar suara meraung seperti gergaji mesin tapi pasti bergerak mendekat dengan cepat. Tak lama kemudian suara yang sedemikian jelas itu membuat kami tiba-tiba kembali sigap merapikan segala yang bertebaran di dalam tenda. Tukang ojek bersepeda motor jadul pabrikan Jepang dengan modifikasi hanya pada ban yang diganti dengan ban motor trail membawa seorang pendaki bertas ransel tidak terlalu besar melewati kami yang ngiler antara menghirup aroma sarapan juga membayangkan kalau punya uang yang berlebih akan mendaki Argopuro lagi dengan naik ojek dari basecamp.

Pukul 8, segala peralatan dan perlengkapan telah tertata rapi dalam carrier, tapi gerimis menunda keberangkatan kami yang berteduh di bawah flysheet. Pukul 9 kami berangkat saat gerimis sedikit berkurang. Kondisi jalur yang dilalui masih sama dengan vegetasi hutan lebat yang sama dan kondisi fisik saya yang juga masih sama KO-nya dibandingkan 2 partner yang masih sama OK-nya!

Pukul 11.30 kami terpaksa berhenti cukup lama, sekira 1 jam, karena ada kerusakan pada tas carrier Wawan. Sementara Wawan menjahit, Amri dan saya mencoba orientasi medan sambil membaca peta dengan kesimpulan bahwa pos mata air 2 sudah terlewati tanpa terdeteksi, mungkin tidak ada papan tanda pos serta tanda panah ke arah mata air, demikian kami menghibur diri.

Sesuai dengan yang kami baca di peta juga, medan selanjutnya adalah menuruni bukit, dan sesuai dugaan kami saat orientasi medan, kami akan tiba di padang rumput luas, hamparan alang-alang hijau kekuningan dengan bunga putih di pucuknya diselingi semak-semak berbunga kuning serta ungu membuat kami terpana dan terpesona untuk selanjutnya terlena dengan kegiatan bernarsis ria di depan kamera, penuh gaya laksana top model ibukota!

Pukul 2 siang, saat kami istirahat makan siang, kembali raungan sepeda motor terdengar dari arah Cikasur dengan bawaan yang lebih heboh, beberapa jerigen nyanthel di atas tumpukan setidaknya 4 karung yang penuh dengan entah apakah isinya. Kali ini kami lebih bisa menguasai diri karena medan datar dengan bentang hutan cemara dan savana silih berganti membuat kami berasumsi lebih bisa menikmati pemandangan dengan berjalan kaki dibandingkan kalo ngojek. Euforia belum habis ketika tiba-tiba terdengar kepak sayap burung merak yang terbang dari persembunyiannya di semak-semak! Sayang kami yang terkejut tidak sempat menangkap momen menakjubkan itu.

Pukul 15.30 kami tiba di reruntuhan bangunan kecil di pinggir lapangan luas, tapi masih butuh berjalan 30 menit lagi untuk sampai di pos Cikasur. Konon pemerintah kolonial Belanda pernah membangun peternakan rusa lengkap dengan pabrik pengalengan dagingnya. Pada masa pendudukan Jepang, Cikasur dijadikan landasan pesawat terbang perintis yang bekas-bekas masih terlihat jelas beserta reruntuhan bangunan yang lebih besar di sisi shelter Cikasur. Shelter ini juga sekaligus titik pertemuan jalur pendakian dari Baderan dengan jalur Tancak. Turun sedikit sebelum tiba di shelter terlihat jelas aliran sungai yang tak pernah kering yang sebagian permukaannya tertutupi tumbuhan selada air segar siap santap tanpa dimasak. Hujan deras dan kabut tebal seusai kami mendirikan tenda membuat pemandangan menjadi demikian syahdu dengan alunan merdu nyanyi satwa savana saling beradu sore itu.

6pos mata air 1 – Cikasur

7alun-alun yang bakalan disamperin

8sedikit situasi di alun-alunnya

9papan petunjuk di shelter Cikasur

Hari 3 Senin 17 Juni 2013 (Cikasur – alun-alun Lonceng)
Tak cukup waktu untuk menjelajahi seluruh keindahan Cikasur karena jalan masih teramat jauh, mustahil berlabuh bila kaki tak terkayuh (lagunya Iwan Fals, dengan sedikit improvisasi, hehe….). Seperti pagi sebelumnya, langit yang mendung kembali mencurahkan sebagian rahmat-Nya, menahan kami untuk sementara sampai pukul 9 pagi ketika kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dalam cuaca yang masih gerimis. Jalan setapak memotong padang rumput ke arah kiri kalau dari bawah merupakan jalur ke Tancak sedangkan ke arah puncak mengikuti jalan setapak ke arah kanan mendaki bukit di sisi bekas landasan pacu pesawat.

Sampai di atas bukit, perjalanan kembali dihiasi oleh hutan yang banyak pohon diantaranya telah gosong terbakar serta savana silih berganti dengan medan yang relatif datar. Banyaknya waktu istirahat karena fisik saya yang masih aja kepayahan membuat estimasi waktu tempuh banyak meleset. Setelah 2,5 jam berjalan, kondisi jalur pendakian berubah total menjadi turunan dengan jurang di kiri serta tebing di kanan, jalan setapak yang sempit menjadi tidak terlihat karena rumput lebat yang tingginya mencapai 2 m. 1 jam lamanya kami menuruni lembah untuk kemudian menyeberangi sungai sebelum sampai di shelter Cisentor, tempat kami beristirahat makan siang.

Shelter Cisentor merupakan titik pertemuan jalur pendakian dari Baderan dengan dari Bermi. Berbeda dengan sungai di Cikasur yang kami bisa memilih jalur menyisir punggungan di atasnya, di Cisentor aliran sungai langsung memotong jalur sehingga kami harus menceburkan diri walaupun kedalamannya tak lebih dari mata kaki saja.

Pukul 13.30 kami berangkat lagi, jalur ke puncak adalah yang menanjak di depan shelter sedangkan jalur ke Bermi ada di sisi shelter searah dengan aliran sungai. Sebagaimana situasi menuruni lembah, demikian juga yang terjadi ketika menaikinya. Setelah 30 menit melewati tanjakan semak rimbun kami sampai di savana lagi kemudian bergantian hutan dan savana lagi dengan medan naik yang tidak terlalu terjal.

Pukul 15.30 kami tiba di Rawa Embik. Terdapat aliran sungai kecil tempat kami mengisi penuh semua wadah air karena rencana perjalanan turun lewat jalur trabasan tidak akan ada sumber air lagi sampai ke danau Taman Hidup. 1 jam berjalan lepas Rawa Embik vegetasi sudah berganti dengan edelweis dengan sedikit semerbak aroma belerang yang menandakan kami sudah berada dekat dengan puncak.

Pukul 17.30 kami tiba di alun-alun Lonceng yang merupakan simpang 4 ke arah puncak Argopuro, puncak Rengganis dan jalur trabasan. Sesaat setelah selesai mendirikan tenda di kawasan yang terlindung pepohonan besar kami bertemu dengan warga yang membawa rerumputan dari puncak Rengganis yang katanya akan digunakan untuk campuran minuman keras, mungkin itu adalah tumbuhan akar wangi, entahlah….

10
11Cikasur – alun-alun Lonceng

12turun ke Cisentor, jalur awalnya masih waras

beberapa meter kemudian
13
???????????????????????????????papan petunjuk di shelter Cisentor

???????????????????????????????papan Rawa Embik


Hari 4 Selasa 18 Juni 2013 (alun-alun Lonceng – PUNCAK – danau Taman Hidup)
Badai dini hari mengangkat fly sheet pelindung tenda di sisi depan, kibarannya bersama deru angin membuat kami enggan beranjak untuk bangun pagi, maka rencana sun rise di puncak pun batal. Pukul 7, setelah sedikit sarapan serta perbekalan secukupnya, kami berangkat dalam cuaca yang masih gerimis. Hanya butuh 20 menit mendaki jalan terjal berbatu untuk sampai ke puncak Argopuro yang berupa pelataran sempit ditandai tumpukan batu dan makam. Setelah puas berfoto-foto, kami menuruni sisi yang berbeda dari jalur naik, melewati tumpukan batu lagi di antara jalan datar sempit yang seperti jembatan. Cuaca cerah menampakkan danau Taman Hidup di bawah dan puncak Mahameru di barat serta puncak Raung di timur. Kemudian naik lagi, hanya butuh berjalan selama 10 menit dari puncak Argopuro untuk sampai di puncak Arca.

Sesuai namanya, ada sebuah arca kecil di puncak Arca, berbentuk manusia yang sedang duduk tapi bagian kepalanya telah raib. Di sekitar arca ada tangga dan undak-undakan sampai ke pelataran alun-alun Lonceng membuat saya berasumsi bahwa dahulu bukit puncak Arca sebenarnya merupakan sebuah bangunan candi dan membuat gunung ini dinamai Argo (gunung) Puro (pura, tempat ibadah umat Hindhu).

Turun dari puncak Arca dari sisi yang berbeda lagi, melalui simpang ke arah jalur trabasan, 10 menit berjalan kami sudah sampai di camp alun-alun Lonceng. Setelah istirahat sejenak memeriksa kondisi tenda dan isinya, kamu berlanjut naik ke puncak Rengganis. Jalan tanah yang tidak terlalu terjal cukup ditempuh dalam 15 menit untuk sampai di reruntuhan candi yang masih menyisakan sedikit temboknya. 5 menit kemudian kami benar-benar sampai di pelataran sebuah candi, jadi ternyata puncak inilah yang membuatnya dinamai Argo Puro. Kami lanjut berjalan mendaki jalur berbatu selama 5 menit untuk sampai di puncak Rengganis. Seperti di puncak Argopuro, ada tumpukan batu, bentukan makam dan lumpang lengkap dengan sesaji beberapa buah ketupat dan taburan bunga. Cuaca cerah membuat jelas formasi pelana puncak Argopuro – puncak Arca di sisi barat serta puncak gunung Raung di horizon timur. Setelah puas berfoto, kami turun kembali ke camp.

16alun-alun Lonceng – PUNCAK

17pas di tengah-tengah antara 2 puncak

18danau Taman Hidup di bawah dan gunung Semeru di kejauhan

19PUNCAK Arca

???????????????????????????????gunung Raung di kejauhan, arah dari puncak Arca

???????????????????????????????gunung yang tepat berada di sisi danau Taman Hidup (katanya bernama gunung Welirang, ada bentukan bekas kawah yang sekarang sudah tidak aktif)

22PUNCAK Rengganis

???????????????????????????????Gunung Raung, arah dari puncak Rengganis

???????????????????????????????kiri = puncak Arca, kanan = puncak Argopuro, kanan bawah = alun-alun Lonceng, arah dari puncak Rengganis

Selesai packing, pukul 10.30 kami melanjutkan perjalanan untuk turun melalui jalur trabasan. Di simpang yang seharusnya diambil terlihat tanahnya longsor sehingga kami malah salah memilih jalur yang kembali naik ke puncak Arca. Sedikit di bawah puncak Arca kami memotong jalur untuk turun melalui jalan setapak yang sepertinya cukup jelas tapi ternyata berujung dengan barisan semak berduri yang telah gosong terbakar di turunan curam dengan tebing di kanan-kirinya. Dengan asumsi di bawah akan sampai di jalur yang benar serta segenap kenekatan kami menerabas jalur trabasan, menghasilkan sejumlah luka gores buat Wawan dan saya yang mengenakan kaos lengan pendek.

Pukul 11.30, saya tidak melihat tanda-tanda akan jalur yang benar sehingga berhenti sejenak bersama Amri dan memutuskan bahwa jika sampai pukul 12 kondisi jalur tetap tidak beres, kami akan naik kembali untuk turun lewat Cisentor, sementara Wawan yang mengaku melihat jalur berkeras untuk lanjut turun karena untuk naik lagi melewati semak berduri akan sangat menguras energi. Dengan perasaan setengah percaya saya biarkan saja Wawan mencari jalur tanpa membawa carrier, sementara Amri dan saya menunggu di tempat yang bisa memantau pergerakannya.

Pukul 11.58, 2 menit sebelum batas waktu yang saya tetapkan, Wawan berteriak bahwa dia sampai di jalan setapak yang cukup jelas, dengan sejumlah marker tali rafia yang diikat di ranting pohon membuatnya yakin bahwa dia telah menemukan jalur yang benar. Turunan yang curam membuat Amri dan saya enggan mengevakuasi carrier, sehingga Wawan yang sudah berada di bawah harus naik lagi untuk mengambil carrier-nya, lalu turun lagi untuk melanjutkan perjalanan melalui jalur trabasan yang sebenarnya.

Lebar, jelas dan enak dilewati, di pinggirnya juga ada banyak marker diikat di pohon, sehingga tidak perlu khawatir akan tersesat karena memang tidak ada persimpangan sepanjang jalur trabasan, demikianlah yang diceritakan oleh seorang polisi hutan bernama Pak Samhaji di basecamp Baderan. Harapan indah langsung sirna ketika berhadapan dengan turunan curam serta jalan setapak yang lebarnya tak lebih dari sejengkal tangan dan hanya terlihat sejauh 1 m ke depan karena rumput lebat setinggi 2 m menghalangi pandangan, untunglah ucapannya tentang marker benar adanya. Dalam situasi terjebak di belantara rumput, sedikit kepastian akan kebenaran jalur yang ditempuh sangat patut untuk disyukuri.

1,5 jam kemudian barulah kami bisa bernafas lega saat masuk hutan yang lebih renggang dan rerumputan berkurang, kami istirahat sambil tertawa terbahak-bahak mengingat kengerian jalur yang baru saja kami lalui. Bagaimana seseorang bisa tertawa menghadapi kengerian? Entahlah, saya pun tidak paham, karena nyatanya saya pun ikut tertawa bersama. Dengan segala ketololan yang kami lakukan, akhirnya saya menyebut tim ini sebagai Dumb & Dumbers, si tolol dan 2 rekan yang lebih tolol lainnya.

Sesuai perkiraan, kami akan melewati semak rumput lagi tapi cuma sebentar karena 15 menit kemudian kami tiba di kali mati, persimpangan antara jalur trabasan dengan jalur ke Cisentor. Jalur ke Cisentor belok kiri kalau dari atas searah dengan jalur sungai yang telah kering sedangkan jalur turun menyeberangi sungai lalu naik menembus belantara reumputan tinggi. Kami beristirahat sejenak bersama beberapa warga yang akan mencari rumput di sekitar kali mati. Di tengah hutan yang sepi, bertemu dengan sesama manusia sungguh menenangkan perasaan.

Pukul 14.00 kami melanjutkan perjalanan, 15 menit kemudian sudah sampai di pos Cemara Lima yang berupa dataran agak luas yang telah dibersihkan dari rerumputan. Kami tidak berhenti karena tergoda oleh beberapa warga di depan kami yang baru saja lewat membawa burung hasil buruannya. Namun gesitnya pergerakan para warga membuat kami jauh tertinggal, ditambah lagi kaki Wawan terluka karena gesekan yang terus-menerus dengan rumput sementara dia hanya beralaskan sandal tanpa kaos kaki. Dengan P3K darurat, Wawan melindungi kakinya menggunakan balutan plastik kresek.

Setelah melalui sabetan rumput lagi di jalan menanjak menyisir lereng gunung, pukul 15.00 kami berhenti untuk istirahat makan siang selama 30 menit di tempat yang datar dengan vegetasi yang mulai beragam. Medan berikutnya adalah turun menyisir sisi lereng gunung di hutan lebat yang sudah cukup gelap karena cuaca berkabut ditambah cahaya matahari terhalang kanopi pohon. 1 jam berjalan kami menyeberangi sebuah sungai kecil dan 20 menit kemudian kami tiba di danau Taman Hidup.

Kabut tebal menutupi seluruh permukaan danau, sehingga ekstase kegembiraan justru berubah menjadi keterkejutan setelah kami bertemu dengan teman-teman Wawan dari Surabaya yang ternyata kelakuannya sama tololnya dengan kami, maka jadilah kumpulan makhluk tolol bergila-gilaan di hutan tepi danau.

Menjelang senja kabut tersibak dan keheningan danau Taman Hidup menghadirkan keindahan yang misterius dengan latar puncak Argopuro di kejauhan, membuat saya yang bertugas mengambil air termenung sejenak mengagumi pesona Maha Karya Sang Pencipta.

25kali mati, kiri naik = arah ke Taman Hidup, ke puncak naik arah ke kanan

Hari 5 Rabu 19 Juni 2013 (danau Taman Hidup – basecamp Bermi)
Hasil ngobrol sampai jam 12 malam adalah Wawan dan saya baru bangun jam 7 pagi, sementara Amri yang udah bangun duluan lagi jalan-jalan di sekeliling danau. Seusai sarapan dan puas berfoto-foto di tepi danau, pukul 10 kami melanjutkan perjalanan. Di persimpangan rombongan dari Surabaya berpisah untuk perjalanan ke puncak sementara kami turun ke basecamp.

26danau Taman Hidup

Obrolan berbagi informasi jalur pendakian semalam membuat kami lebih siap menghadapi medan jalan rusak akibat tanah yang longsor di sekitar akar pohon serta beberapa kali melewati pohon bertumbangan akibat hempasan badai beberapa hari sebelumnya. 2 jam kemudian kami sudah memasuki kawasan Perhutani dan memutuskan untuk beristirahat menghabiskan perbekalan makan yang masih tersisa berupa sekotak agar-agar karena hampir seluruh logistik sudah diberikan kepada tim Surabaya yang baru akan naik.

Pukul 12.30 kami lanjut berjalan melewati areal perkebunan milik Perhutani yang panas tanpa naungan pohon di pinggir jalan hingga 30 menit kemudian kami sudah tiba di gerbang kawasan wisata Taman Hidup. Setelah istirahat cukup lama di warung di pertigaan desa Bermi, pukul 14.30 kami melaporkan diri kepada petugas pos pendakian sambil menunggu bus tujuan Probolinggo yang katanya jadwal sore hanya ada pada jam 4 sore.

Masih pukul 15.30 ketika seorang ibu berkata bahwa bus baru saja lewat. Kami yang lagi pada bengong dengan lamunannya masing-masing langsung bergegas bangkit. Dengan segala upaya, penjaga basecamp Pak Arifin membonceng Wawan dan saya untuk mengejar bus tapi jarak yang sudah terlalu jauh membuat pengejaran terhenti saat Pak Arifin bertemu dengan mobil pick up. Dengan sedikit negosiasi dalam bahasa setempat, Pak Arifin berhasil membujuk supir untuk membawa rombongan kami. Sementara Pak Arifin kembali menjemput Amri di basecamp, Wawan dan saya mencoba berbasa-basi dengan supir dan kondektur, supaya lebih akrab dan terutama supaya kami tidak perlu membayar, haha…. Setelah Amri datang, kami berpamitan dengan Pak Arifin dan ngacir-lah kami di bak belakang mobil pick up bersama beberapa sepeda motor kreditan.

Meluncur gratisan sambil foto-foto serta teriak-teriak nyanyi tidak mutu dalam suara yang terbang bersama angin, pukul 5 sore kami sampai di kota kec. Pajarakan kab. Probolinggo. Sebelum diminta bayaran, Wawan dan saya langsung beraksi mengucapkan terima kasih banyak kepada bapak supir dan kondekturnya yang sudah mau mengikutsertakan kami dalam muatannya, pak supir yang terkejut itu pun cuma bisa pasrah dan maklum menerima kenyataan tidak mendapat uang tambahan dari penumpang gelap, haha…. Dari Pajarakan yang terletak di jalan raya Probolinggo – Situbondo kami naik bus untuk pulang kembali ke kota tercinta.

“Setelah 5 hari meninggalkannya, setelah melihat begitu banyak sisi lain dari negara Indonesia tercinta, setelah perjalanan yang begitu melelahkan, semuanya akan menjadi ragi untuk diri masing-masing. Bangsa yang besar adalah bangsa yang sehat tubuhnya. Pemuda-pemuda sakitan tidak mungkin menyelesaikan tugas-tugas pembangunan. Dan untuk itulah saya selalu mau membawa rombongan mendaki gunung.”
~ Soe Hok Gie ~

???????????????????????????????gunung Argopuro dari pertigaan desa Bermi

Categories: DIVISI RIMBA GUNUNG, SEPUTAR GUNUNG | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: