Cerita Panjang di Merbabu (Syarif3119)

1
PLANTAGAMA, REPORTASE – Gunung Merbabu merupakan salah satu gunung di Provinsi Jawa Tengah. Gunung Merbabu berada di tiga wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Semarang. Kawasan Gunung Merbabu ditetapkan sebagai Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) sejak dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 135/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004 tentang perubahan fungsi kawasan hutan lindung dan taman wisata alam pada kelompok hutan Merbabu seluas 5.725 hektar. Gunung Merbabu memiliki dua buah puncak yakni Puncak Syarif (3119 mdpl) dan Puncak Kenteng Songo (3142 mdpl). Jalur pendakian Cunthel (Kopeng/Salatiga), Thekelan (Kopeng/Salatiga), Wekas (Kaponan/Magelang), dan Selo (Boyolali) merupakan empat opsi jalur pendakian bagi para pendaki untuk mencapai puncak Gunung Merbabu.

Puji syukur kepada Tuhan sehingga kami Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam Plantagama (KMPA Plantagama) Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk kembali mencapai puncak Gunung Merbabu. Kami dari Plantagama  beranggotakan delapan orang antara lain Bani “dhebog”, Jodi “lola”, Syatori “manuk”, Rifki “gotasu”, Sandhi “kagol”, Ander “tuju”, Ian “gembel”, dan Rama “lutung”. Kami mendaki bersama teman-teman dari jurusan Sosial Ekonomi, jurusan Hama dan Penyakit Tanaman, dan jurusan Mikrobiologi, Fakultas Pertanian UGM (Deri, Rizky, Joyo, Gombong, Nabila, Cancan, Hanafi, dan Eka). Pendakian kali ini ditempuh melalui jalur Cunthel (Kopeng, Salatiga). Berikut catatan dari perjalanan kami di Merbabu selama tiga hari.

#Jum’at|27 September 2013

Yogyakarta – basecamp Manggala, Cunthel

Motor adalah kendaraan paling gampang yang bisa digunakan untuk menuju basecamp Manggala di Cunthel. Namun, kami memilih menggunakan transportasi umum yaitu bus untuk perjalanan awal ini. Pilihan menggunakan transportasi umum merupakan pembelajaran manajemen perjalanan terutama bagi Anggota Khusus “muda” Plantagama. Manajemen perjalanan sudah dipelajari sebelumnya dan ini adalah praktik dari brata keilmuan dari Saptabrata Plantagama.

Basecamp Manggala, Cunthel dapat dicapai dengan dua kali naik bus ditambah berjalan kaki. Pukul 14.20 WIB, kami berangkat dari Terminal Jombor dengan naik bus jurusan Yogyakarta-Semarang menuju pemberhentian pertama yaitu Terminal Magelang. Tarif bus ekonomi Yogyakarta-Magelang adalah Rp 9.000,00/orang. Kami turun di Terminal Magelang untuk berganti bus. Bus selanjutnya adalah bus ekonomi jurusan Magelang-Salatiga. Pemberhentian kedua adalah Objek Wisata Umbul Songo. Tarif bus Magelang-Umbul Songo adalah Rp 10.000,00/orang. Turun dari bus, kami sepakat untuk makan terlebih dulu di warung makan bernama “Warung Mondok”. Pukul 17.45 WIB, hari sudah mulai gelap dan setelah ini perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki ± 1,5 km untuk sampai basecamp Manggala, Cunthel.

2pengkolan tempat pemberhentian bus dari terminal Magelang

Perut terisi, kami mulai bergerak menuju basecamp. Jalan dari pinggir jalan raya s.d. basecamp merupakan jalan aspal yang terus menanjak. Melalui jalan ini, kami melewati objek wisata Umbul Songo. Sekitar 20 meter setelah objek wisata Umbul terdapat gapura kecil bertuliskan “Jalur Pendakian Cuntel – Balai Taman Nasional Gunung Merbabu”. Sebelum sampai di basecamp, terdapat gardu pandang di atas lembah. Dari sini, kita bisa melihat Gunung Ngandong, Gunung Telomoyo, Gunung Sumbing, dan Gunung Sindoro. Kami tiba di basecamp Manggala setelah berjalan selama lebih dari satu jam. Pukul 19.50 WIB, tim sampai basecamp Manggala, Cunthel.

Checking, Retribusi, dan Silaturahmi

Basecamp Manggala berada di ketinggian ± 1700 mdpl. Di basecamp kami melakukan pengecekan ulang terhadap semua barang dan logistik yang dibawa. Tim sepakat untuk melakukan pendakian malam. Total pendaki dari tim ini adalah 16 orang. Kami mengurangi jumlah bawaan, yaitu satu dome/tenda. “Cukup empat dome aja, kita kan berenambelas, yang satu ditinggal sini (basecamp) aja gapapa”, kata Rifki “gotasu” yang rapi dengan PDL Plantagama dan topi legendarisnya.

Setiap pendaki yang akan melakukan pendakian Gunung Merbabu melalui jalur pendakian Cunthel dikenakan biaya retribusi oleh pengelola basecamp. Biaya retribusi total adalah Rp 4.000,00/orang. Biaya tersebut terdiri dari karcis masuk pengunjung TNGMb (Rp 1.500,00) dan sumbangan pengelolaan pendakian (Rp 2.500,00). Adapula tambahan biaya parkir jika membawa kendaraan pribadi. Di luar urusan biaya retribusi, basecamp Manggala juga menjual beberapa makanan, air mineral, penghangat (kaos kaki, sarung tangan, kupluk) dan berbagai souvenir Gunung Merbabu.

Ba’da pengecekan barang bawaan dan pembayaran retribusi, rombongan bersilaturahmi sebentar ke rumah Pak Partono. Pak Partono adalah warga Dusun Cunthel yang juga pengelola basecamp Manggala. Plantagama sudah lama mengenal beliau, begitu pun beliau dan keluarganya. Obrolan berlangsung cukup lama, ngalor ngidul. Pukul 21.00 WIB, ke-16 mahasiswa pamit karena akan memulai pendakian.

3Basecamp Manggala – Pos Bayangan 1

Jeda dari waktu pulang silaturahmi s.d. waktu berangkat mendaki adalah 1,5 jam. Lama. Ya, lama. Karena masih ada di antara kami yang masih repot dengan segala tetek bengek-nya.

Wesheweshewessss…… Diawali dengan berdoa, pukul 22.30 WIB kami memulai pendakian. Pendaki akan melewati jalanan aspal datar Dusun Cunthel sebelum berbelok ke kiri mengikuti petunjuk arah “Puncak”. Kami belok kiri mengikuti petunjuk arah. Di depan, trek menanjak sudah bisa dilihat jelas. Jalan berbatu kemudian beralih jalan tanah, melintasi kebun warga yang ditanami berbagai macam jenis tanaman sayur. Salah satu jenis sayuran yang tersohor adalah sayur adas. Tersohor karena banyak orang senang setelah sayur adas dimasak. Bagi saya, sayur adas adalah sayur minyak telon, karena aromanya seperti minyak yang biasa dioles-oleskan ke tubuh mungil bayi sambil menangis owek-oweeeeek.

Vegetasi kemudian beralih menjadi vegetasi pohon pinus atau yang biasa anak-anak sebut sebagai pohon cemara karena pengaruh lagu. Jalan memang beralih tipe, tapi sama-sama tanjakan. Bukankah sudah sewajarnya seperti itu naik gunung? Jalan menanjak. Jalan datar tetaplah ada, tapi hanya sedikit dan bersifat bonus. Pukul 23.10 WIB, tim sampai di Pos Bayangan I. Petugas TNGMb bekerjasama dengan masyarakat lokal sedang dalam proses merenovasi Pos Bayangan I. Jika sudah jadi, terdapat fitur baru di Pos Bayangan I yaitu dapuran, semacam tempat untuk memasak atau membuat perapian. Informasi tersebut kami terima dari Pak Partono.

Kami hanya istirahat sebentar di Pos Bayangan I. Malam sebentar lagi berganti dini hari. Kami segera bergerak karena target camping ground adalah tanah lapang antara pos 2 dan pos 3.

#Sabtu|28 September 2013

Pos Bayangan 1 – Pos Bayangan 2

Senter tetap stay on, kami tetap berjalan. Trek masih sama berupa jalur tanah menanjak. Vegetasi berupa hutan pinus di sepanjang jalur pendakian. Hari berganti dalam perjalanan menuju Pos Bayangan II. Terus menanjak dengan sedikit bonus. Beberapa pendaki yang pernah saya temui berpendapat bahwa tipikal gunung di Jawa Tengah adalah jalur yang pendek tapi naik terus. Rombongan pendakian masih terlihat sehat. Pukul 00.10 WIB, Pos Bayangan II.

Pos Bayangan II merupakan sumber air pertama di jalur pendakian Cunthel. Sumber air berasal dari mata air (entah dimana lokasinya) yang dialirkan melalui pipa besi kemudian ditampung dalam sebuah bak dari semen berukuran 50×50 cm. Pendaki juga bisa mendirikan camp disini. Terdapat  tanah lapang yang cukup untuk empat tenda. Beberapa orang dari kami ada yang mengisi air disini karena membawa beberapa botol kosong dari bawah. Beberapa hanya sekadar mengambil untuk cuci muka.

Perjalanan dilanjutkan!

Pos Bayangan 2 – Pos 1

Tidak memerlukan waktu lama untuk mencapai Pos 1 dari Pos Bayangan 2. Setelah berjalan selama 35 menit, tim tiba di Pos 1. Jam digital di pergelangan lengan kiri saya menunjukkan waktu pukul 00.45. Jalur Pos Bayangan s.d. Pos 1 masih sama dengan jalur sebelumnya. Jalur tanah, menanjak, dan vegetasi hutan pinus di sepanjang jalur pendakian. Kami istirahat sekitar 30 menit disini. Beberapa keping biskuit sedikit mengisi ulang tenaga yang telah terkuras ditambah seteguk air mineral untuk membasahi kerongkongan.

Ada sebuah tips dalam memilih biskuit untuk bekal naik gunung. Lihatlah nutrition information di kemasan biskuit kemudian pilihlah biskuit dengan jumlah kalori terbanyak per takaran sajinya. Lebih banyak kalori yang terkandung dalam harga yang paling murah, itulah proses seleksi terakhir dari sebuah biskuit untuk naik gunung. Berdasarkan riset yang telah dilakukan oleh Plantagama, kami merekomendasikan sebuah brand yang bergambar macan. Roarrr!!!.

Pos I merupakan tanah lapang dengan ciri khas adanya bebatuan besar yang terkubur dalam tanah sehingga tampak sedikit saja bagiannya. Menurut keterangan Pak Partono, pendaki dilarang buang hajat di Pos I. Alasannya kenapa? Saya tidak bertanya lebih jauh. Lebih baik kita menuruti nasehat dari warga lokal.

Bulan masih terlihat walaupun sudah tidak bulat utuh. Tanggal 15 bulan Jawa telah lewat beberapa hari lalu. Jalur selanjutnya tampak mulai terbuka. Langit cerah penuh bintang yang terlihat dalam wujud titik-titik putih kemerlip. Wajah kami kusut. Saya berdiri, “ayo lanjut lagi!”.

Pos 1 – Pos 2

Perjalanan menuju Pos 2 mulai terasa sangat berat. Jalur terbuka membuat dingin semakin menjadi. Jalur berupa tanah kering dengan banyak debu sehingga disarankan bagi para pendaki untuk mengenakan masker. Hal yang tetap sama dengan sebelumnya adalah menanjak. Perlahan kami tetap melangkah. Pikiran sudah ingin sekali badan ini rebah. Hidung dan mulut masih bersinergi dalam proses respirasi si pendaki yang lelah. Pukul 01.30 WIB, kami sampai di Pos 2.

Pos 2 juga merupakan tanah lapang yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Namun, tujuan kami bukan disini. Sebentar lagi kami sampai di camping ground yang ditargetkan. Ada yang lupa saya sampaikan bahwa sesuai kesepakatan perjalanan malam ini kami batasi s.d. pukul 03.00 WIB. Kami hanya duduk sebentar di Pos 2.

Jalan lagi!

Pos 2 – Camping Ground

Beban carrier bertambah sangat berat. Tetap berat walaupun tanjakan di depan berkurang sudut kemiringannya. Udara semakin dingin seiring bertambahnya ketinggian. Kami, pendaki dari Plantagama dan dari beberapa jurusan di Fakultas Pertanian UGM masih melangkah. Hidung sudah mulai meler. Nafas terengah. Satu, dua, tiga langkah. Berhenti. Satu, dua, tiga langkah. Berhenti. Hingga akhirnya, sampailah kami di camping ground. Jam tangan menunjukkan pukul 02.45 WIB.

Camping Ground / dini hari, es

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, camping ground kami berada di antara Pos 2 dan Pos 3. Kami memilih tempat ini karena tanah yang lapang dan terdapat banyak tanaman yang berfungsi sebagai wind breaker. Ujung jari-jari tangan mulai sakit jika disentuh karena saking dinginnya. Kami tidak tahu pasti temperatur udara menunjuk pada skala angka berapa. Pendaki lain yang sudah mendirikan camp terlebih dulu di tempat ini mengatakan bahwa suhu udara berada pada angka 4°C.

Kami langsung membongkar carrier mengeluarkan seperangkat dome untuk segera didirikan. Ketika mendirikan tenda, kami baru sadar ternyata butir-butir air embun membeku menjadi serpihan es. Merasa kurang percaya, kami menuangkan sedikit air di atas plastik. Hasilnya air tadi memang berubah menjadi es. Berita duka bagi kami adalah udara dingin yang ngga nahan. Berita gembiranya adalah pembuatan jelly menjadi lebih cepat, horeeee! @_@”

Dome sudah didirikan, minuman hangat diberikan. Sejak kami sampai di tempat camp memang sudah ada pembagian tugas sehingga dua atau lebih pekerjaan bisa selesai lebih cepat. Tidak berapa lama makanan juga sudah matang dan siap santap. Sajian makanan berupa mie bihun sayur telur cukup sebagai asupan untuk recovery tenaga kami setelah perjalanan. Saya berada di dome bersama tiga rekan Plantagama yaitu Ian “gembel”, Ander “tuju”, dan Rama “lutung”. Masih dini hari, dingin, gelap sepi, dan letih. Perut sudah terisi, mari mancal kemul !!! (istilah Bahasa Jawa yang berarti memakai selimut, dalam hal ini adalah sleeping bag).

Camping Ground / pagi hari, cerah

4
Gelap gulita telah berganti. Dunia sudah terang benderang. Matahari pagi, hangat. Hayyuk berjemur!

Sembari berjemur di bawah naungan kehangatan, kami memasak untuk sarapan pagi ini dan menyicil masak untuk siang nanti. Jam setengah delapan pagi jelas terlihat dari camp kami, puncak menara atau tower pemancar. Masih kecilnya objek yang dilihat oleh mata mengindikasikan bahwa jarak perjalanan kesana masih jauh. Puncak menara merupakan Pos 4 yang akan dituju.

??????????????????????????????? 5menu sarapan

6terlihat puncak gunung Prenggodalem (Pos 4)

Pukul 10.00 WIB, semua tim sudah siap untuk melanjutkan perjalanan. Hari yang sudah terang menambah semangat untuk motret. Sebenarnya sudah sejak tadi malam motret-nya. Namun, dengan sarana dokumentasi yang seadanya kala terang menjadi lebih bagus untuk dipotret. Jepret, jepret! Sudah. Cukup. Mendokumentasikan orang, mendokumentasikan barang, dan mendokumentasikan pemandangan(g).

7

Camping Ground – Pos 3

Jarak dari camping ground menuju Pos 3 memang tidak jauh. Estimasi kami perjalanan hanya sekitar 10 menit. Jalur datar dan terlihat jelas. Melewati semak-semak tinggi, rata-rata setinggi 170 cm. Semakin dekat dengan Pos 3, jalur kembali menanjak. Masih sama, jalur tanah dan berdebu. Perjalanan kami lebih 5 menit dari perkiraan. Setelah 15 menit berjalan, kami sampai di Pos 3.

8Pos 3

Pos 3, pukul 10.30 WIB. Kami beristirahat sejenak. Tubuh mulai beradaptasi terhadap terang dan panas setelah semalam selama berjam-jam berjalan di dalam gelap dan dingin. Manajemen air dalam situasi seperti ini harus benar-benar dijaga apalagi jika mendaki gunung yang tidak memiliki sumber air di sepanjang jalur pendakiannya. Namun kita bisa lebih tenang karena di depan masih terdapat sumber air yaitu di dekat Pos Helipad atau Pos 5. Kami minum hanya sebatas untuk membasahi kerongkongan. Selain mengontrol kebutuhan air, bagi sebagian orang terlalu banyak minum selama pendakian malah menjadikan kurang nyaman.

Pos 3 sendiri merupakan tanah lapang yang luas. Tempat ini bisa dijadikan camping ground puluhan tenda. Tanah lapang berada di sisi kanan dan sisi kiri jalur pendakian. Ketika malam, disini akan sangat dingin karena lokasi yang mirip seperti lapangan bola dan minim tumbuhan penghalang angin. Berdasarkan yang kami lihat, hanya ada beberapa spot di sebelah kanan jalur pendakian yang terdapat wind breaker-nya.

9Pos 3 dan Pos 4 (dilihat dari Pos 3)

Pos 3 – Pos 4

Mungkin ini menjadi segmen perjalanan yang paling ngosh-ngoshan, huuuh haah, huuuuh haaah. Trek setia untuk menjaga statusnya, selalu menanjak. Meninggalkan Pos 3 mulanya kita akan melewati jalur yang sedikit menanjak dan sedikit tertutup. Telah dinyatakan dalam kalimat sebelumnya, dengan kata ‘mulanya’ dan ‘sedikit’. Trek atau jalur pendakian selanjutnya jika dinyatakan dalam sebuah pernyataan adalah sisanya banyak yang nanjak membuat kepala sering mendongak. Menguras tenaga.

Situasi seperti ini disiasati dengan melihat lansekap indah Merbabu di kiri dan kanan jalur pendakian. Bisa juga melihat bentang alam di bawah kita. Wilayah kabupaten atau kota yang terlihat datar jika dilihat dari ketinggian. Atau bernafas teratur supaya tidak lekas cape’. Atau menggunakan jurus meringankan tubuh. Apabila telah mencoba semua jurus tidak mempan berdoalah kepada Yang Maha Menciptakan dan Membolak-balikkan Suasana di Hati, semoga tenaga tetap dilimpahkan, hati senantiasa merasa gembira, dan mental tidak ­ngedrop.

Singkat kata singkat cerita, sekawanan pendaki dari Faperta UGM masih berjuang keras. Pos 4 masih beberapa langkah lagi. Batu besar di depan menjadi penanda bagi kami bahwa Pos 4 hanya 10 meter dari tempat ini. Ancer-ancer (penanda) yang paling mudah adalah tower pemancar yang terdapat di Pos 4. Semakin mendekat dengan Pos 4, tentu tower tersebut terlihat semakin besar. Setelah berjalan lebih kurang selama dua setengah jam kami tiba di Pos 4. Waktu menunjukkan pukul 12.30 WIB.

Pos 4 – Summit

Tim kami memilih Pos 4 sebagai tempat istirahat sebelum kami melakukan summit attack. Pos 4 atau disebut juga Gunung Watu Tulis berada di ketinggian 2.896 mdpl. Terdapat bangunan permanen berukuran sekitar 4×3 meter di sebelah tower pemancar. Batu-batu besar di luar pagar bangunan dapat digunakan untuk berlindung dari angin kencang. Pos 4 bisa dijadikan sebagai tempat camp tetapi kami tidak menyarankannya. Pos ini berada di puncak bukit sehingga besar kemungkinan mudah untuk diterpa angin besar.

11tower Pos 4 difoto dari atap bangunan

Menjelang perjalanan menuju puncak, kami me-charge tenaga kembali dengan makan siang. Menu makan siang hari ini saya rasa menjadi menu makan paling enak sepanjang pendakian. Nasi gulung dibungkus nori a.k.a. sushi, mie goreng jamur nori, satu keranjang parsel buah-buahan, dan nu***s*ri jeruk campur nata de coco. Puji syukur atas kesehatan dari-Nya sehingga makan terasa sangat enak.

10menu makan siang

Sendawa beberapa menit yang lalu dibarengi dengan lahirnya kesepakatan lagi. Rama dan Gombong akan tinggal di Pos 4 untuk menjaga barang-barang dan selebihnya melanjutkan perjalanan menuju puncak. Kaki kembali melangkah meninggalkan jejak. Muncak!!!

Pukul 14.15 WIB, Summit attack. Jalur selanjutnya berupa turunan menuju Pos Helipad. Mulai dari Pos 4, suguhan pemandangan sampai dengan puncak semakin indah. Pendaki akan melewati jalur yang berada di tengah punggungan. Mata memandang, Merbabu semakin hijau. Punggungan, lembah, dan kawah. Jalan panjang menuju langit biru sungguh luar biasa.

a

Pos Helipad merupakan pos terakhir sebelum mencapai puncak. Pos Helipad sangat dekat dengan Gunung Kukusan yang di puncaknya berwarna putih. Di depan mata terbentang kawah yang berwarna keputihan. Di sebelah kanan di dekat kawah terdapat sebuah mata air, pendaki harus dapat membedakan antara air minum dan air belerang (merbabu.com). Rombongan kami melewati Pos Helipad sekitar pukul 15.00 WIB.

Jalur pendakian di depan menanjak semakin terjal. Melewati jalur seperti ini saya harus berkali-kali nyincing kathok (menaikkan celana) karena jarak bebatuan yang membentuk anak tangga cukup tinggi. Jalur terjal menurut beberapa orang lebih nyaman dilewati dengan mengenakan celana pendek daripada celana panjang. Kata orang, “jadi lebih ringan aja kalau melangkah”.

Menengok ke belakang, jalur pendakian mulai dari Pos 4 terlihat berkelok-kelok naik turun berada di tengah punggungan. Cuaca sepanjang hari ini memang sangat cerah sehingga kami bisa melihat jalur dengan jelas.

b

Pukul 16.00 WIB, Persimpangan puncak. Mempertimbangkan waktu dan kondisi tim, puncak yang dituju adalah Puncak Syarif (Gunung Prengodalem). Dari persimpangan puncak pilihlah jalur ke kiri untuk mencapai Puncak Syarif. Jalur ke arah kanan merupakan jalur menuju Puncak Kenteng Songo (Gunung Kenteng Songo). Waktu tempuh dari persimpangan menuju Puncak Syarif sekitar 10 menit, sedangkan menuju Puncak Kenteng Songo sekitar 30 menit.

Sampailah kita di Puncak Syarif (3119 mdpl). Pikiran masyarakat awam pada umumnya termasuk kami, “waah puncak, siap-siap foto nih”. Bagi yang membawa kamera siap-siap jadi juru dokumentasi anak orang yang minta tulung dipotoin. Bagi yang sudah dipotoin gantian motoin temannya ya.

Kami laskar-laskar Plantagama kembali mengibarkan bendera merah putih dan bendera Plantagama di puncak gunung. Foto bersama beberapa rekan HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) dan BSI (Badan Semi Independen) Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Puncak Merapi merupakan puncak gunung non-Merbabu yang paling dekat. Merbabu Merapi, tetangga. Daratan terlihat rata dari puncak. Garis horizon menjadi batas pandangan mata.

Satu jam termasuk alokasi waktu yang cukup untuk berada di puncak. Matahari sudah siap siap membenamkan dirinya berganti menerangi bagian bumi yang lain. Jam 5 sore kami turun, kembali ke Pos 4. Jalur naik dan jalur turun adalah sama yakni jalur Cunthel.

Turun| Summit – Pos 4

Kala senja rombongan bergerak meninggalkan Puncak Syarif. Sampai di tengah perjalanan turun, kami bertemu dengan rombongan dari Majestic 55 (Mapala Fakultas Hukum UGM). Bla… bla… bla… ngobrol sebentar. Rombongan Majestic naik melalui jalur Wekas untuk kemudian turun melalui jalur Selo. Selamat melanjutkan perjalanan kawan.

Pukul 18.10 WIB, Pos 4. Hari sudah gelap dan hawa udara sangat dingin, kami segera masuk ke bangunan di Pos 4 yang kebetulan lagi kosong. Memasak lagi untuk kembali makan sebelum melanjutkan perjalanan turun ke basecamp. Banyak pilihan menu makanan malam ini karena persediaan logistik yang dimasak lumayan banyak dan beragam. Lelah seakan menurunkan kesabaran menunggu semua masakan siap untuk disajikan. Sembari masih dimasak, juru masak yang berganti-ganti orang nyambi “menyicipi” masakannya.

Penantian berakhir ketika semua matang dan disajikan. Keenambelas pendaki makan bersama dalam harmonisasi sarden, pasta, tempe goreng, dan yang dimasak lainnya. Makan malam, kami sebut sebagai senter light dinner. Ketimpangan antara waktu masak dan waktu makan adalah keniscayaan bagi sebagian besar orang-orang yang mendaki gunung apalagi ditambah satu lagi variabel yaitu lapar.

Sesuai dengan aturan hukum kekekalan energi, energi dari makanan sudah berpindah ke tubuh makhluk-makhluk yang akan melanjutkan perjalanan turun ke basecamp. Seakan berkeinginan sama yaitu bergegas turun, semua langsung membereskan carrier masing-masing. Wadah-wadah masakan yang kotor langsung di-packing karena semakin malas dengan urusan cuci piring dan keluarganya.

Turun| Pos 4 – Basecamp

Pukul 20.45 WIB, kami turun gunung melewati jalur yang sama. Dengan asumsi semuanya normal, perjalanan turun selalu lebih cepat daripada ketika naik. Perjalanan menuju Pos 3 hanya ditempuh dalam waktu satu jam. Jalur kami turun dari Pos 4 menuju Pos 3 berbeda dengan jalur naik siang tadi. Kami melipir agak ke kiri jalur (dari atas) sehingga elevasi jalur lebih besar. Jalur ini sepertinya sering digunakan oleh pendaki hanya untuk turun. Waktu tempuh antar pos, dari Pos 3 s.d. Pos 1 hanya setengah jam.

#Minggu|29 September 2013

Pos 1 s.d. basecamp butuh waktu cukup lama karena ada rekan kami yang mengalami cedera kaki karena terkilir. Kami berjalan selama tiga jam dari Pos 1 hingga ke basecamp. Lutut semakin gemetar setelah diajak berjam-jam turun gunung. Gemetar karena selama berjam-jam menahan beban yang lebih besar ketika berjalan turun. Saya mencatat, sekitar pukul 01.45 WIB kami tiba di basecamp.

Sentuh bawah (baca: touch down!) Basecamp Manggala Cunthel. Mari membersihkan diri sebelum beristirahat. Pukul 03.00 WIB, selamat tidur.

Kembali ke Jogja

Minggu pagi menjelang siang kami pamitan ke petugas Basecamp dan Pak Partono. Kurang satu jam lagi hingga tiba tengah hari. Hawa Cunthel masih tetap segar walaupun pagi mulai beranjak pergi. Turun, kembali lewat jalanan aspal s.d. pinggir jalan raya. Cuaca masih labil, kadang mendung kadang panas. Kami berjalan hingga ujung jalanan aspal. Rombongan kembali ke Jogja via bus.

Pukul 16.00 WIB, Terminal Jombor. Muka bertambah kusut, setelah beberapa jam berada dalam deru mesin bus dan hiruk pikuk di dalam bus. Tak berapa lama, rekan-rekan Plantagama yang baik hatinya menjemput sekumpulan pendaki. Bak seorang ayah yang menjemput putranya pulang, penuh keikhlasan. Terima kasih kawan. Puji syukur, berangkat dengan sehat, pulang dengan selamat, kembali berkumpul di basecamp Plantagama.

“…Hutan dan gunung kami lintasi, laut danau sungai kami arungi…”

Rincian Biaya
>Transportasi
Jogja (Jombor) – Terminal Magelang : Rp 9.000,00/orang
Terminal Magelang – Umbulsongo : Rp 10.000,00/orang
Total biaya transportasi PP : Rp 38.000/orang

>Retribusi Pendakian : Rp 4.000,00/orang

Categories: DIVISI RIMBA GUNUNG, SEPUTAR GUNUNG | Tags: | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Cerita Panjang di Merbabu (Syarif3119)

  1. naiiiisss~ ditunggu cerita perjalanan2 berikutnya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: